Kekacauan di pagi Natal, pita, kertas, dan jeritan gembira, terasa tidak nyata setahun setelah putra kami yang berusia 20 bulan, Aiden, meninggal secara tak terduga saat operasi. Tiba-tiba, berbelanja untuk dua anak, bukannya tiga anak, merupakan kenyataan baru yang nyata, sebuah penyesuaian yang menyakitkan terhadap dunia yang tidak akan pernah terasa benar lagi.
Natal sebelumnya dihabiskan dengan cara yang berbeda.
Suamiku, Nick, menyerahkan stockingku kepadaku, dan putriku membesar-besarkan gerakannya saat dia berjalan berlutut untuk membawanya. Di dalamnya, di antara pernak-pernik biasa, ada “Tombol Mudah”—sebuah benda plastik baru yang dirancang untuk menyederhanakan masalah hanya dengan sekali tekan. Warnanya tiruan, putih polos, bukan merah terang klasik.
“Tekan,” kata Nick, dan saat aku melakukannya, rekaman teredam memenuhi ruangan. Itu adalah Aiden yang sedang tertawa bersama saudara-saudaranya. Suara itu berhenti secepat awalnya, meninggalkan keheningan. Rekamannya hanya berdurasi 15 detik tetapi momennya sempurna. Anak-anak telah memilihnya bersama-sama, sebuah tindakan kecil untuk mengenang bersama.
Namun, kesedihan tidak hilang. Ia tetap tinggal di ruang kosong, dalam rasa sakit karena ketidakhadiran.
Ketika teman saya Ashley membutuhkan seseorang untuk menjaga balitanya, Will, sementara dia pulih dari persalinan, kami langsung setuju. Memiliki si kecil lagi terasa menakutkan sekaligus perlu, sebuah cara untuk menguji batas kesedihan kita dan melihat apakah masih ada ruang untuk kegembiraan baru.
Tempat tidur bayi Aiden, yang dipindahkan ke kamar tidur kami setelah kematiannya, masih berdiri sebagai tempat suci sementara. Untuk memberikan ruang bagi Will, kami dengan hati-hati mengemas selimut, boneka binatang, dan cetakan plester tangan mungil Aiden.
Will seumuran dengan Aiden ketika dia didiagnosis mengidap kanker, dan untuk sesaat, melihatnya merangkak dan mengoceh, masa lalu dan masa kini menjadi kabur. Putra sulung saya, yang saat itu berusia 10 tahun, mengamati dengan penuh rasa ingin tahu, kadang-kadang terhenti di tengah kalimat dengan sedih, “Itu seperti Aiden.”
Tombol Mudah muncul kembali di meja saya, dan ketika Will mengambilnya, saya ingin dia menekannya. Rasanya signifikan, cara untuk memasukkan Aiden ke dalam babak baru ini. Dia melakukannya, menekannya berulang kali, memicu rekaman itu dengan tawa yang pecah-pecah. Nick dan aku saling tersenyum penuh pengertian.
Minggu bersama Will melelahkan namun penuh kehidupan. Kami menyanyikan lagu, memotong-motong makanan, dan mengingat bagaimana rasanya menantikan waktu tidur siang. Saat Ashley datang menjemputnya, aku merasakan rasa kenyang yang pahit. Kami selamat, dan bahkan menemukan saat-saat bahagia di tengah kesedihan.
Namun kesedihan tidak ada habisnya. Saat Will pergi, rumah kembali sunyi. Kekosongan kembali muncul, familiar dan menyakitkan.
Generasi kakek-nenek saya jarang berbicara tentang kehilangan dan menyembunyikannya dalam bayang-bayang. Aku memilih jalan yang berbeda, mengisi rumah kami dengan kenangan akan Aiden: foto, kaus kaki di dalam mobil, poster pemakamannya yang disandarkan di dinding.
Musim liburan adalah pengingat akan apa yang hilang. Satu kursi makan bayi yang kosong, berkurang satu surat untuk Santa, satu tahun lagi tanpa putra kami. Kesedihan kita tidak akan hilang, tapi akan berkembang. Tempat tidur bayi sekarang dibongkar di garasi. Mainan-mainan itu pada akhirnya akan disumbangkan.
Tombol Mudah, yang tadinya merupakan hadiah tak berguna, kini menjadi penyelamat. Hal ini memungkinkan saya untuk mengingat kembali tawa, kemarahan, atau kegembiraan Aiden ketika saya membutuhkannya. Ini adalah pengingat yang indah bahwa cinta tidak hilang seiring dengan kematian. Dengan merayakan hidupnya, kita menjaga cinta itu tetap hidup.
Rasa sakitnya masih ada, tapi karunia mengingat, menjaga sebagian dari dirinya tetap dekat, telah menjadi sumber pelipur lara. Hadiah itu terus diberikan.
Emily Henderson adalah seorang pelari dan penulis yang tinggal di Santa Barbara, CA, bersama suami dan tiga anaknya. Dia menulis Substack, The Bittersweet Weekly.
