Harga bahan pangan berfluktuasi selama bertahun-tahun, namun meskipun terjadi fluktuasi, tren keseluruhannya tetap sama: harga pangan saat ini lebih mahal dibandingkan di masa lalu. Meskipun beberapa komoditas seperti telur sempat mengalami penurunan sementara akibat meredanya wabah flu burung, faktor mendasar yang menyebabkan tingginya biaya – mulai dari kejadian cuaca hingga konflik global – masih belum hilang.
Realitas Campuran Biaya Bahan Makanan
Konsumen melihat perpaduan perubahan harga yang membingungkan. Inflasi telah melambat menjadi 2,4% pada bulan Januari 2026, turun dari 2,7% pada tahun sebelumnya, namun harga-harga masih lebih tinggi 3,1% pada akhir tahun 2025 dibandingkan pada tahun 2024. Ini berarti meskipun tingkat kenaikan telah melambat, biaya-biaya masih terus meningkat.
Salah satu contohnya adalah telur yang harganya anjlok 59% karena meredanya flu burung. Katina Holliday, pedagang kelontong di Mississippi, menjual telur dengan harga di bawah $2. Namun keringanan ini diimbangi dengan kenaikan harga bahan pokok lainnya. Harga sereal telah melonjak, dengan pilihan di luar merek yang masih terjangkau, namun kotak bermerek kini berharga hingga $5.
Tekanan pada Pedagang dan Konsumen
Masalahnya bukan hanya pada harga yang lebih tinggi; itu menyusutkan margin keuntungan. Holliday mencatat bahwa toko kelontong yang sebelumnya beroperasi dengan margin keuntungan 3–5%, kini turun menjadi 1–3%. Artinya, tekanan terjadi di kedua sisi: konsumen membayar lebih banyak, namun pedagang memperoleh penghasilan lebih sedikit.
Harga makanan pokok melonjak. Makan malam spageti sekarang berharga $35–$40, sementara daging dijual seharga $7,99 per pon di negara bagian dengan upah minimum $7,25. Ketidakseimbangan ini memaksa pilihan yang sulit.
Apa yang Mendorong Inflasi?
Berbagai faktor berperan. COVID-19 mengganggu rantai pasokan, perang Rusia-Ukraina meningkatkan harga energi, dan cuaca ekstrem menghancurkan tanaman. Stephen Henn, seorang profesor ekonomi, menjelaskan bahwa harga pangan lebih dipengaruhi oleh biologi dan cuaca dibandingkan politik. Misalnya, harga jus jeruk naik 28% karena penyakit dan pilek.
Namun, masalah yang lebih besar adalah kebijakan moneter. Inflasi berasal dari peningkatan jumlah uang beredar. Amerika Serikat mengalami lonjakan inflasi terbesar dalam 40 tahun terakhir yang dimulai pada tahun 2021, dan meskipun tingkat inflasi telah menurun, harga-harga belum berbalik arah. Mereka hanya meningkat dengan kecepatan yang lebih lambat.
Faktor Politik: Siapa yang Harus Disalahkan?
Presiden tidak secara langsung menentukan harga bahan pangan, namun kebijakan merupakan hal yang penting. Donald Trump secara keliru mengklaim bahwa harga ayam dan daging sapi telah turun pada masa pemerintahannya, padahal kenyataannya, harga ayam naik 1% dan daging giling mencapai rekor tertinggi pada bulan Januari 2026. Tarif Trump menaikkan harga kopi sebesar 20%, meskipun tarif tersebut bukan satu-satunya pendorong inflasi pangan secara keseluruhan.
Kenaikan harga dimulai pada masa pemerintahan Trump dan Biden. Selama masa jabatan pertama Trump (2017-2020), harga pangan naik 1,8% setiap tahunnya. Pada masa jabatan keduanya dan awal masa jabatan Biden (2021–2026), lonjakan rata-rata adalah 2,9%. Masa jabatan penuh Biden mengalami peningkatan rata-rata sebesar 5,9%, dengan lonjakan paling signifikan antara tahun 2021 dan 2022.
Ancaman yang Membayangi: Perang dan Kerugian Energi
Meningkatnya konflik dengan Iran telah menaikkan harga minyak, yang selanjutnya akan membebani konsumen. Produksi pangan sangat bergantung pada energi untuk pupuk, pemrosesan, pendinginan, dan transportasi. Gelombang kenaikan harga berikutnya akan terasa di kasir.
Toko kelontong juga mungkin enggan menurunkan harga meskipun memungkinkan, karena ketidakstabilan pasar menciptakan peluang untuk memaksimalkan keuntungan. Hal ini berarti konsumen akan terus dirugikan karena pengecer lebih memprioritaskan margin dibandingkan keterjangkauan.
Cara Mengatasinya: Dan Mengapa Itu Tidak Cukup
Para ahli menyarankan untuk mengurangi pengeluaran restoran dan memasak lebih banyak di rumah, dengan mengandalkan makanan pokok seperti nasi, pasta, dan kacang-kacangan. Pembelian dalam jumlah besar dapat membantu keluarga yang lebih besar. Namun, langkah-langkah ini pun mungkin tidak cukup.
Holliday mengamati bahwa pelanggan membeli lebih sedikit makanan dan menggantinya dengan pilihan yang lebih murah dan kurang sehat. Kenyataannya adalah banyak orang yang hidup tanpanya. Masalah utamanya bukan hanya inflasi; itu akses. Tidak ada warga Amerika yang harus berjuang untuk mendapatkan makanan, dan perubahan sistemik diperlukan untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi.



























