Presiden Donald Trump terlibat dalam perselisihan dengan reporter NewsNation Libbey Dean selama konferensi pers pada hari Selasa, meningkatkan pola serangan verbal terhadap jurnalis, khususnya perempuan. Insiden tersebut terjadi ketika Dean berusaha mengajukan pertanyaan tentang kebijakan luar negeri Trump terhadap Iran, setelah penandatanganan perintah eksekutif yang dimaksudkan untuk membatasi pemungutan suara melalui pos.
Pola Permusuhan
Trump menyela Dean di tengah-tengah pertanyaan, menuduhnya sebagai “orang baru” yang “menyebabkan banyak masalah.” Ini bukanlah peristiwa yang terisolasi. Presiden Trump mempunyai sejarah yang terdokumentasi dalam menyerang wartawan secara pribadi yang mengajukan pertanyaan yang tidak disukainya, dan sering kali menggunakan bahasa yang menghina. Pada bulan November, dia menyebut reporter perempuan sebagai “Piggy,” dan minggu lalu mengkritik reporter laki-laki Newsmax karena dianggap kinerjanya buruk.
Penargetan berulang kali terhadap jurnalis perempuan menyoroti tren permusuhan gender dalam interaksi Trump dengan pers. Namun, perilaku ini tidak hanya terkait gender, karena Trump sering kali memecat atau menghina jurnalis dari media yang ia anggap kritis.
Konteks Pertukaran
Ketegangan berkobar ketika Dean mendesak Trump apakah dia memerlukan kesepakatan dengan Iran untuk meredakan konflik. Trump menampik perlunya negosiasi, dengan menyatakan bahwa Iran sekarang “jauh lebih mudah diakses.” Dia kemudian tiba-tiba memotongnya ketika dia mencoba menjelaskan pertanyaannya.
“Tunggu sebentar,” kata Trump. “Apakah kamu ingin aku menjawab pertanyaan itu? Kamu orang yang segar. Kami punya banyak masalah denganmu, bukan?”
Tanggapan Gedung Putih
Tim Respon Cepat Gedung Putih menggambarkan pertukaran ini sebagai kemenangan bagi Trump, dan menulis di Twitter bahwa dia telah “mematikan” Dean setelah dia “menyela” dia. Pembingkaian ini menggarisbawahi kesediaan pemerintah untuk berpartisipasi aktif, dan bahkan merayakan, retorika permusuhan terhadap pers.
Insiden ini menyoroti hubungan yang semakin bermusuhan antara pemerintahan Trump dan media, di mana serangan pribadi telah menjadi bentuk komunikasi yang dinormalisasi.
Perilaku Trump menimbulkan pertanyaan mengenai rasa hormatnya terhadap independensi jurnalistik dan kesediaannya untuk terlibat dalam dialog konstruktif dengan pers. Serangannya yang terus-menerus terhadap wartawan melemahkan peran media dalam menjaga akuntabilitas kekuasaan dan memastikan adanya wacana publik yang terinformasi.
