Podcaster dan mantan pejabat pemerintahan Trump, Katie Miller, memicu badai api di media sosial pada hari Minggu ini dengan menggambarkan peran sebagai ibu sebagai “takdir biologis” seorang wanita dalam penghormatan Hari Ibu. Postingannya, yang menampilkan foto perutnya yang sedang hamil, menuai kritik tajam dari para feminis dan pengamat biasa, yang membandingkan retorikanya dengan tema distopia dalam The Handmaid’s Tale karya Margaret Atwood.
Pesan Kontroversial
Miller, yang sedang mengandung anak keempat dari Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, menggunakan kesempatan itu untuk menantang cita-cita feminis modern. Dalam postingannya di X (sebelumnya Twitter), dia menulis:
“Untuk memperingati Hari Ibu, sebuah pengingat bahwa puncak feminisme adalah memiliki bayi. Hal paling radikal yang dapat dilakukan seorang wanita adalah menerima takdir biologisnya.”
Pernyataan ini mengubah perayaan tradisional para ibu menjadi sebuah khotbah politik, yang menyarankan bahwa pilihan reproduksi harus sejalan dengan pandangan dunia tradisionalis yang spesifik. Bagi Miller, hal ini bukanlah sebuah sentimen tersendiri. Pada bulan April, menyusul laporan penurunan angka kelahiran remaja, ia mengunggah pesan serupa, dengan alasan bahwa perempuan tidak boleh “menjadi budak di belakang meja untuk mengejar karier sementara peradaban kita mati.”
Perbandingan dengan Fiksi Distopia
Reaksi langsung dari para kritikus bukan hanya ketidaksetujuan, tapi juga kegelisahan. Banyak pengguna yang menyamakan bahasa Miller dengan The Handmaid’s Tale, novel dan serial televisi ikonik yang berlatar masa kediktatoran teokratis di mana perempuan dilucuti haknya dan dipaksa menjadi budak seksual untuk mendapatkan keturunan.
Salah satu penonton membagikan klip dari acara tersebut yang menampilkan tokoh protagonis, June Osborne, diingatkan akan “takdir biologisnya”, yang menyoroti kesamaan frasa yang mengerikan. Komentator lain hanya menggambarkan suasana itu sebagai “menyeramkan”.
Perbandingan ini menggarisbawahi ketegangan budaya yang lebih luas: frasa “takdir biologis” telah menjadi titik panas dalam perdebatan tentang peran gender. Ketika digunakan oleh aktor negara atau tokoh berpengaruh, hal ini dapat menyiratkan bahwa nilai utama perempuan terletak pada reproduksi, sebuah konsep yang penting bagi penindasan yang digambarkan dalam karya Atwood.
Bentrokan Definisi Feminis
Reaksi ini juga menyoroti kesenjangan mendasar dalam definisi feminisme. Postingan Miller menyiratkan bahwa feminisme pada akhirnya harus melayani struktur keluarga tradisional. Namun, para kritikus berpendapat bahwa pandangan ini bertentangan dengan prinsip inti gerakan feminis modern, yang memprioritaskan hak pilihan dan pilihan.
- “Memberitahu perempuan apa yang seharusnya mereka lakukan bukanlah feminisme, itu seksis,” tulis seorang kritikus.
- Pengguna lain menunjukkan ironi dari posisi Miller: “Puncak feminisme adalah kemampuan untuk memilih dan tidak dipermalukan karena pilihannya. Anda dapat memposting di internet karena feminisme, Anda berteriak.”
Komentar kedua ini mengangkat poin yang tajam mengenai infrastruktur kehidupan modern. Kemampuan untuk menyampaikan pendapat kontroversial di media sosial, mengakses internet, dan menavigasi ruang publik digital sebagian besar merupakan hasil dari advokasi feminis untuk inklusi perempuan dalam bidang profesional dan teknologi.
Mengapa Ini Penting
Kontroversi ini lebih dari sekedar pertengkaran di media sosial; hal ini mencerminkan pertarungan budaya yang semakin meningkat mengenai peran perempuan dalam masyarakat. Ketika pergeseran demografis—seperti menurunnya angka kelahiran di negara-negara Barat—menjadi perhatian politik, tokoh-tokoh seperti Stephen dan Katie Miller semakin vokal dalam mendukung kebijakan pronatalis dan peran gender tradisional.
Intensitas reaksi tersebut menunjukkan bahwa banyak orang Amerika sensitif terhadap bahasa yang mencerminkan kontrol otoriter atas tubuh perempuan. Dengan menggunakan “takdir biologis”, Miller memanfaatkan narasi yang diterima oleh kalangan konservatif tertentu, namun mengasingkan pihak lain yang memandang mandat tersebut sebagai kemunduran terhadap hak-hak perempuan.
Intinya, perdebatan tidak lagi hanya mengenai apakah seseorang memilih untuk memiliki anak, namun mengenai siapa yang dapat mendefinisikan makna peran perempuan di ruang publik.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa dalam iklim yang terpolarisasi saat ini, bahkan peristiwa penting seperti Hari Ibu dapat menjadi medan pertempuran konflik ideologis.
